CERPEN

TERSAKITI OLEH CINTA

Krrrriiiiiinnng… terdengar suara jam alarm berbunyi, terlihat seorang gadis terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam itu, sedang tangannya dengan cekatan menyambar jam tersebut dan mematikannya. Aaaaggh… pukul 04.00, sebentar lagi adzan subuh! Pikirnya. Dengan masih bermalas-malasan dia segera bangun, berjalan dengan gontai menuju kamar mandi. Bersamaan dengan langkahnya suara adzanpun berkumandang.
Tak lama kemudian… dia bergegas mengambil mukena dan segera menuju masjid. Jarak masjid dengan rumahnya cukup dekat hanya terbatasi oleh jalan raya. Masjid yang cukup besar berlantai dua dan lantai tiga dibagian atapnya.
Setelah selesai sholat diapun segera pulang. Setelah itu dia menyiapkan buku-buku pelajarannya yang akan dibawa ke sekolahnya nanti. Merapikan tempat tidur dan membantu orang tua. Sekedar bantuin nyapu lantai dan menyiapkan makanan buat sarapan. Yah… itulah pekerjaan yang dilakukan Rita setiap pagi. Di dapur yang mungil Rita meraciksayuran yang akan dimasak nanti bersama ibunya.
“Ta… saiki awakmu kudu temenan olehmu sekolah. Sekolah duwur iku kudu mbutuhne ragat sing akeh. Opomeneh awakmu sekolah ing sekolahan sing paling apik neng kene. Mbak-mbakmu ora ono sing iso sekolah neng kono. Dadi awakmu kudu sregep anggonmu sinau.Wong tuwa gur iso ndongakke lan mbiayai anggonmu sekolah.” suara lembut penuh kasih sayang itu memenuhi ruangan. “Yo wis nok, awakmu gek aduso mengo ndak kawanen. Iki yo wis meh rampung”.
“ Nggih buk..” jawab Rita dan segera meninggalkan ibunya.
Hari itu adalah pertama kalinya Rita masuk sekolah tentunya di sekolah yang baru juga. Setelah bersiap- siap Ritapun meminta ayahnya untuk mengantar ke sekolah. Maklum dia belum bisa naek motor sendiri, lagian juga belum dibolehin sama orangtuanya.
Pagi yang indah, mentari yang cerah. Seperti cita- cita ini yang akan selalu bersinar terang. Pikirnya dalam hati didepan gerbang SMA1 Jaya satu-satunya sekolah berbasis RSBI di kotanya. Dengan penuh semangat Rita melangkahkan kakinya.
“Deeerrrrrrrr…”
“Astagfirullohaladzim…” seseorang telah mengagetkannya dari belakang. Terlihat Ifah temannya dari SMP1 Taruna Wijaya yang ktawa melihatnya. “Huuhh… Ifah ngagetin orang muluk sampe jantungan nich!”teriak Rita.
“Lah… gitu aja sewot. Ntar cepet tua lho!” ledek Ifah.
“Biarin aja… yee!” balas Rta.
“Gitu aja ngambek…” kata Ifah masih cekikikan.
“Siapa juga yang ngambek… Fah kamu kelas apa?”
“Aku kelas Xb, emangnya kamu kelas apa?”
“Emm… pa ea? Tebak donk..!”
“Gak tau ahh.. paan?”
“Tau’..! kamu ja disuruh nebak nggak mau.”
“Lah… kamu nie buat penasaran ja.”
“ Aku kelas Xd satu kelas sama Aya.” jawab Rita
“Enak donk… di kelas ada temen akrabnya. Nah aku gax ada..”
“Iya lah enak… hehe”
Rita dan Ifah dengan asyiknya bercanda ria di kursi depan kelas hingga tak terasa bel masukpun berbunyi. Hari pertama masuk sekolah belum ada pelajaran penuh. Saat itu baru ada pembelajaran dari pengurus OSIS dan sedikit pengetahuan tentang pembelajaran- pembelajaran yang dilakukan di skolah RSBI oleh guru- guru pembimbing. Selain itu OSIS dan pengurus UKK mengenalkan berbagai extra yang ada di sekolah kepada peserta didik. Ada UKK Rohis, Rokat, Kopisaji, PAWANA, PMR, PKS, musik, dan masih banyak lagi.
***
Di sekolah Rita duduk- duduk di bangku taman sendirian, Ifah dan teman- teman yang lainnya belum datang. Memangsih hari itu Rita berangkat lebih awal. Kini dia sedang menyibukkan diri dengan HP di tangannya. Tak lama kemudian Ifah menghampirinya dan duduk disampingnya.
“Serius amat sih…” kata Ifah memecahkan keheningan.
“Mmm… biarin syirik aja loe” jawab Rita yang masih serius dengan HP-nya dan mambalas SMS tanpa mengalihkan pandangannya.
“Yee… siapa juga yang syirik. Emag SMS-an sama siapasih?”
“Ada deh… mau tau aja! Eh Fah kamu ikut extra apaan?”
“Aku ikut PKS kamu mau nggak ikut PKS juga? Temenin Aku gitu..”
“Nggak ahh… Aku kan udah ikut extra PAWANA msak Aku suruh ikut PKS juga..males ahh”
“Alahh… ikut PKS aja yuk?” pinta Ifah dengan penuh harap.
“Enggak… kamu aja yang ikut PAWANA.” Jawab Rita yang masih sibuk dengan HP-nya.
“Aku nggak boleh sama orang tuaku… ya udahlah kalau kamu nggk mau.”
Keduanya menyibukkan diri dengn HP-nya masing- masing.
“Dalam hitungan sepuluh seluruh CATA PKS harap kumpul!” terdengar suara dari tengah lapangan. Ifah yang semula menyibukkan diri dengan HP segera berlarian menuju ketengah lapangan. Rita hanya memandangi Ifah yang setengah kaget dengan suara tadi, yah sedikit ketawa sih. CATA PKS segera berbaris membentuk dua banjar, sedang Rita masih memandangi mereka. Dan melupakan kegiatan SMS-annya. Tiba- tiba seorang cowok melihatnya dan senyum kepadanya, dia adalah salah satu dari CATA tersebut. Ritapun membalas senyumannya.
***
“Ta… temeni Aku yuk?” ajak Ifah sepulang sekolah.
“Kemana?”
“Udahh… ayo!!” sambil menyeret tangan Rita.
“Ya udah… ayo! Tapi lepasin tanganku donk sakit tau!” kata Rita pasrah. “Mau ke mana sih? Gabung sama mereka ya?” tanya Rita sambil menunjuk anak- anak PKS yang sedang duduk- duduk di depan kantin. Ifah tak menjawab. “Ya sudah… aku mau pulang aja!” kata Rita lagi dan langsung berbalik arah.
“Dek…” teriak salah seorang pada Rita.
Ritapun ragu- ragu dan berhenti sejenak, matanya menangkap salah seorang yang memanggilnya tadi. Seorang cowok agak putih, nggak terlalu tinggi, dan rambutnya yang agak ikal. Sambil terbengong Rita mengingat- ingat cowok itu, ternyata dia adalah seorang yang senyum padanya di lapangan tadi pagi. “Iya… ada apa?” tanya Rita setelah mengingat- ingat cowok itu.
“Enggak… gak ada apa-apa.”
“Emm… ya udah.” kata Rita dan segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Ifah bersama teman- temannya.
“Fah… dia siapa?” tanya Rito pada Ifah.
“Siapa sih? Ifah balik tanya.
“Tuh tadi yang sama kamu.”
“Oh… dia temanku namanya Rita. Kenapa tanya- tanya… kamu suka sama dia ya? Hayo.. ngaku aja deh.” ledek Ifah.
Ritopun hanya tersenyum “ Kalau iya knapa kalau enggak knapa? Kamu punya nomer HP-nya kan? Aku minta donk!”
“Ya… nggak apa- apa! Aku dukung kamu kok.. tenag aja! Tadi kamu nggak minta sendiri?”
“Bagus dech kalau begitu. Nggak tadi kayake dia terburu- buru!”
“Iya bentar..” kata Ifah sambil mengeluarkan HP dari renselnya dan membacakan nomor HP-nya Rita.
Sambil berjalan menuju rumah, HP Rita berbunyi. Dia segera buru-buru mengambil HP-nya dan membaca kotak masuk.
Md siang, btw gi pa ni?
Emm… nomor barupikir Rita. Kira- kira siapa ya… hemm Rita pun membalas SMS itu.
Md siang jg, nie gi pulsek, nie cp ea?
Dan tak lama kemudian Rita mendpat balasan dari orang itu, ternyata dia adalah Rito anak IPA1 sekaligus orang yang saat itu menyapanya. Merekapun betukar informasi lewat SMS. Hari demi haripun berganti dengan seringnya SMS-an Rita dan Rito semakin dekat, canda dan tawa selalu menghiasi waktu mereka, hingga tumbuh benih- benih cinta diantara mereka. Dan pada suatu hari Rito menyatakan perasaanya pada Rita. Tanpa pikir panjang Rita menerima cintanya. Dengan rasa sayang itu mereka menjalin hubungan yang biasa disebut pacaran. Tak terasa sudah satusetengah bulan mereka menjalin hubungan itu. Mereka saling berbagi diantara satu dengan yang lain, tak hanya canda dan tawa tapi kesedihan- kesedihan yang dialami juga dirasakan bersama.
“Gimana dek sekolah disini bisa ngikuti pelajarannya kan?” tanya Rito saat mereka makan bersama dikantin sekolah.
“Emm… ya lumayan lah, mas sendiri gimana?” jawab Rita sambil mengaduk- aduk semangkuk mienya.
“kalau aku sih… nileku jadi lebih baik saat ada kamu.”
“Ea syukur dech kalau gitu.”
“Ta… pinjem HP-nya donk!”
“Buat apa aku kan udah disini?”
“Gak buat apa- apa cuma pinjam aja kok.”
Rita mengeluarkan HP-nya dan menyerahkan pada Rito. Tiba- tiba Rito terdiam.
“Alex siapa Ta?” tanya Rito setelah membaca inbox.
“Emm… bukan siapa- siapa cuma temen kok, sering bercandaan juga sih ama dia.” Jawab Rita.
“Beneran kan cuma temenan aja?” tanya Rito nggak percaya.
“Iya bener kok…”
“Tapi kok SMS-nya gini sih? Pakek monyet- monyetin kamu segala, akukan nggak terima kalau cewekku yang cantik nie digituin?”
“Udah lah… nggak pa- pa lagian cuma bercanda.”
“Ya sudahlah… pi janji lhuw kalo ada apa- apa bilang ama aku.”
“Iya dech… udah selese nie makannya. Aku pulang dulu ya?”
“Ya udah… ati- ati di jalan.” kata Rito.
***
“Apa maksudnya diFB-mu?” tanya Rito pagi harinya.
“Apaan sieh aku nggak tau?”
“Alah… nggak usah pura- pura nggak tau.”
“Beneran aku nggak tau.”
“Ya udahlah… “ kata Rito, dia langsung pergi meninggalkan kelas Rita dengan agak marah.
“Ta… kamu tuh ada masalah apa sih?” tanya Aya pada Rita.
“Gak ada apa- apa… emang kenapa?” tanya Rita penasaran.
“Tuh diFB-mu… tadi malem aku iseng- iseng buka FB terus baca- baca didinding FB-mu, tuh ada orang ngejek- ngejek kamu… Pokoknya kayak gitu dech! Emang kamu gax tau po?”
“Enggak… lok kamu tau yang ngirim tuh siapa ea?”
“Aku nggak tau juga… ! Ntar kamu bukak FB ja mungkin cuma temen kamu” jawab Aya.
Rita segera membuka FB-nya dan membca dinding di profilnya.
Q benci kamu… Nyet! Q bersykur banget ada orang yang benci sama Q.
Uuuuh…dasar MONYET!!!!
Itu adalah salah satu kalimat didindingnya dan masih banyak lagi, semuanya dari Alex. Rita menyadari Rito tadi marah- marah ama dia gara- gara itu. Rita segera minta maaf pada Rito lewat SMS dan Ritapun juga dimaafkan.
***
Malam harinya Rita serba salah, gara- gara FB tuh. Dia segera pegang HP-nya dan mengirim SMS pada alex.
Nyebeli banget sih loe… kurang kerjaan bgt! Skit tw gx lox org d’jlex2in kek gt lwt FB lgi…
Gx pny prsaan bgt sih
Balasan dari Alex
Biarin aja, biar mua org tw klox sbnra u rang’a kex gt…
SMS dari Rita
Lah… biar neh u mo blg pa yg ptg Q gx kek gt, emx u ja yg sirik, dasar gx pny ht!
Mlaisaat nie gx sah SMS-an maQ lg
Balasan dari Alex
OK… cp jg yg mw SMS-an ama seekor MONYET kek u!
Huuh… nyebelin banget sih tuh anak, udah disini cuma ngekost, gx tw sopan santun, jadi orang sok bangt. Untung aku masih baek hati ama dia, lox nggak masalah kek gini bisa jadi serius… pikir Rita.
***
Akhir Novemberpun tiba, para siswa mempersiapkan diri untuk menghadapi UAS yang akan dilaksanakan tanggal 1 Desember besok. Begitu juga dengan Rita, masalah- masalah kemarin juga sudah berlalu, tak ada lagi ejekan- ejekan dari Alex dan hubungan Rita dan Rito juga sudah bikan.
Hari terakir UAS tiba, Rito ingin cepat- cepat menyelesaikan pekerjaanya dan segera bertemu Rita. Kangen sieh… secara sepuluh hari nggak ketemuan SMS-an aja jarang. Saat itu Rita juga buru- buru, tapi bukan untuk ketemuan ama Rito, Rita ingin pergi ama teman- teman SMP-nya dulu… rasanya kangen banget udah 6bulan nggak ketemu ama mereka. Rita lebih memilih ketemu ama teman- temannya daripada ama Rito. Ritopun agak kecewa ama Rita coz nggak jadi ketemuan. udahlah… akukan bisa besok- besok biarin sekarang cewekku kumpul n seneng- seneng ama temennya dulu pikir Rito saat Rita berpamitan ama dirinya.
Cukup lega setelah UAS berakhir, 1minggu setelah dilaksanakannya UAS, SMA1 Jaya mengadakan pekan seni budaya yang diikuti oleh siswa kelas X dan XI. Saat itu juga bertepatan tangal 14 Desember yang merupakan hari ulangtahunnya Rita, tapi dia nggak merayakannya kok. Hari itu Rita disuruh nemeni Rito makan di kantin sekolah, tapi saat perlommbaan selesai Rita disuruh ke kelas ama teman- temannya. Tak lam kemudian Rita masuk kelas.
“Dari mana aja kamu! Malah mbojo wae!” teriak salah satu anak yang berdiri didepan kelas, tapi Rita tidak menghiraukannya dan ia langsung duduk di bangku kosong.
“Bisa solider nggak kamu? Yang lain pada bersihin kelas, kamu malah enak- enakan disana! Sebagai hukumannya kamu harus bersihin kelas ini sendirian!” Ritapun segera mengambil sapu.
“Happy brithday to you…!” sebelum dia mulai menyapu, semua anak di kelaspun bernyanyian dan mengucapkan selamat pada Rita. Ritopun juga ngasih selamat ama Rita, tapi dia juga minta maaf coz dia nggak bisa ngasih apa- apa. Yah emang sebelum hari ultahnya Rita minta di cariin filem Harry Potter seri 1-7 coz Rita seneng banget ama tuh filem. Ritopun bela- belain nyariin n download. Itu sudah cukup buat Rita, lagian ultah tuh bukan kado yang dicari tapi makna dari ultah itu sndiri, koreksi diri dan merancang hal- hal baru yang ntar akan dilalui.
Sore harinya sepulang sekolah Rita mendapat SMS dari Alex, dia pengen ketemu dan pengen ngomong sesuatu ama Rita. Akhirnya Rita memenuhi permintaanya dan dia bertemu Alex di lantai dua masjid. Rita hanya duduk ditangga, sedang menunggu alex. Tak lama kemudian dia datang juga.
“Sudah dari tadi ya?” tanya Alex dan segera duduk di depan Rita, yah berjarak 1meteran lah.
“Enggak kok… ada pa e?”
“Aku cuma mau minta maaf kalau kemarin- kemrin aku udah gitu ama kamu, dah nyakitin perasaan kamu… ya emang sieh aku benci ama kamu tapi dengan kebencian itu buat aku sayang kamu.” Kata Alex sambil memandang Rita.
“Terus…?” tanya Rita tanpa memandangnya.
“Ya cuma minta maaf aja… terus kalau kamu nggak mau juga nggak pa- pa, kamu mau nggak?”
“Emm… sory aku nggak bisa, aku bener- bener nggak bisa.”
“Ya udah lok kata hatimu gitu… aku juga ngak akan maksa.”
“Ea… pi maaf juga dah nyakitin perasaanmu.”
“Nggak pa- pa… met ultah ea! Aku cuma bisa kasih kamu ini, tapi kalau kamu nggak mau buang aja!”
“Apa e? Ngak usah yo… aku nggak perlu kado”
“lox nggak mau ya dibuang aja!” Alex segera meninggalkan Rita sendirian setelah ngasih kado berbungkus merah muda pada Rita. Alex menuju tangga lantai tiga. Malam itu hujan gerimis Alex hujan-hujanan disana sendirian, sedang Rita masih duduk terdiam di tangga, menyuruh Alex turun dan ngelarang dia ujan- ujanan lewat SMS. Tapi dia nggak mau turun kalau Rita belum pulang. Akhirnya pukul 11.00WIB Rita pulang dan membawa kado dari Alex dengan terpaksa. Alexpun juga turun dari lantai tiga, terlintas rasa kecewa dan kedinginan dari dirinya.
***
Tiba hari Sabtu penerimaan hasil belajar siswa selama 1semester. Sebenarnya hari itu libur sekolah coz yang ngambil rapor orangtua wali. Tapi Rita janjian ketemu ama Rito disekolah niatnya sih mau ngopi filem Harry Potter yang kemarin belum sempat dikasih, yah sekalian ketemu terakhir sebelum liburan. Banyak anak- anak juga yang masuk sekolah. Saat tuh Rita diajak di Maco ama Rito, ada anak-anak PKS juga kok disitu, kebetulan mereka pada kelaparan. Seperti biasa mereka iuran untuk beli makanan Rito yang disuruh beli makan ditemani Rita. Rita diboncengin Rito ke warung dekat sekolah. Segera Rito memesan nasi bungkus.
“Hayo… Rita” sapa seseorang yang lewat warung situ. Ibu- ibu yang naek sepeda ontel, dia adalah tetanga Rita.
“Ngapa to buk…” balas Rita. Ibu itupun berlalu tapi dia masih saja memandanginya.
“Siapa?” tanya Rito.
“Tetanggaku…” jawab Rita agak gugup, dia punya filing ntar jadi masalah gara-gara tetangganya liat dia ama seorang cowok, secara Rita pacaran sembunyi- sembunyi coz nggak dibolehin.
“Oww… pi kok agak aneh ea?”
“Aneh apanya? Perasaanmu aja kali.” jawab Rita, padahal dirinya sendiri juga gugup.
Setelah membayar pesanannya mereka kembali ke sekolah dan makan- makan bersama. Sambil menunggu rapor, mereka pada ngegame, liat film, dan canda tawa memenuhi ruang itu. Sedang Rita mengopy film yang diinginkannya. Satu per satu mereka pulang setelah rapornya dibagikan dan pulang bersama orangtuanya. Tinggalah Rita dan Rito sendirian di tempat itu.
“Dek… pengen?”
“Pengen apa?” tanya Rita.
Ritopun menciumi Rita penuh nafsu, merekapun menikmatinya. Setelah selesai mengopy film Hary Potternya Rita pamit pulang ama Rito.
“Mas aku pulang dulu ya?”
“Alah… ntar aja neh temeni aku dulu.” jawab Rito.
“Temeni apa lagi… hemz.”
“Masih pengen…”
“Lah… udahlah mas.”
“Ya udahlah lok nggak mau… ati- ati”
“Iya dech…”
***
Malam harinya ada gosip menyebar tentang Rita boncengan ama cowok, gosip yang tadi pagi dilihat dan diketaui oleh tetangganya. Orang tua Ritapun mendengar gosip itu. Malam itu juga Rita dimarahi habis-habisan.
“Awakmu ki ngopo malah ngelek- elek nama baike wongtuwamu, disekolahke ngoyo- oyo, diragati temenanan malah nglaggar aturan. Neng agomo yo wis dilarang, nak awakmu gur arep nglanggar koyo ngono kui tak rabekke sisan gek orasah mikir sekolah. Ibumu ki wis keloro- loro ket mbiyen sing dadi sorotan gur keluarga kene. Soale bapakmu yo kyai desa. Neng anake gur gawe- gawe doso terus.”
Rita hanya terdiam mendengar semua itu, dia merenungi semua yang dilakukannya. Dia menyadari semua yang dilakukannya juga salah. Sejak saat itu Rita agak menjauh dari Rito, selama libur semester mereka jarang SMS-an. Sekalipun Rita diajak ketemuan ama Rito tapi nggak pernah mau.
Hingga masuk sekolah tiba, Rita tetap saja menjauh dari Rito. Dalam hati Rito bertanya- tanya mengapa Rita selalu menjauh darinya. Tanggal 29 Desember Rito minta kejelasan atas hubungan yang mereka jalani.
“Dek… pengenmu gimana?” tanya Rito saat mereka berduaan di kelas Xd.
“Nggak pengen apa- apa?”
“Apa udah nggak sayang?”
“Nggak kok aku masih sayang ma mas.” jawab Rita.
“Terus ngapa kamu selalu ngejauh dariku?”
Sejenak Rita terdiam.
“Kalau kamu diam nggak akan nyelesain masalah.” kata Rito.
Rita tetap terdiam dan menundukkan kepalanya.
“Apakah diam berarti nggak sayang? Berarti bener kata temen- temenku lok kamu udah nggak sayang. Sempet ada yang bilang lok aku suruh mutusin kamu. Tapi aku nggak mau karena aku masih sayang sama kamu.”
Rita hanya terdiam mendengar kata- kata dari Rito. Dia bingung banget mau bilang apa. Didalam hatinya dia masih pengen pacaran ama Rito, tapi separuh hatinya mengtakan tidak. Dia nggak pengen nyakitin hati Rito. Rita bener- bener bimbang.
“Kenapa diam? Jawab Ta..? Aku butuh kejelasan dengan hubungan kita. Mau lanjut atau cukup?”
“Bukannya udah nggak sayang, tapi aku udah nggak bisa…?” jawab Rita.
“Beneran?”
“Iya…” jawab Rita.
Di depan Rita, Rito menangis. Rita mengusap airmatanya.
“Maaf… udah nyakitin perasaanmu.”
“Udahlah nggak pa- pa kalau itu kata hatimu. Ya udah lok kamu mau pulang.”
“Ea… sekali lagi maaf.” Kata Rita dan segera meninggalkan Rito sendirian dikelas.
***
Sejak saat itupun Rita dan Rito jarang SMS-an, sebenarnya Rita masih pengen temenan ama Rito. Tapi Rito nggak mau dia takut kalau dia makin sayang sama Rita, tapi Rita udah nggak sayang.
Rito benar-benar sakit hati dan kecewa sama Rita, dari awal Rito udah serius ngejalani hubunganya dengan dia. Tapi semua berakhir dengan kepedihan, sampai suatu hari Rito mau bunuh diri gara- gara semua itu dan dia juga pernah menulis kalimat dengan darahnya. Dia pengen bisa memiliki Rita lagi tapi mustahil pikirnya.
Sedang Rita menyesali perbuatannya selama ini dan dia nggak ingin pacaran lagi, dengan pacaran dia merasa harga dirinya jatuh. Dan dia ingin belajar sungguh- sungguh.
Kalimat yang pernah di tulis Rito dengan darahnya sendiri.
“Air mata emang istimewa dan itulah bukti Q cinta dia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s